Manusia Sejarah.

Mengukir Sejarah.

 

“The First Avenger” Review

Film apa yang paling Anda sukai saat Anda masih kecil? Bagi saya, film superhero adalah favorit. Batman Forever adalah film pertama yang saya tonton di bioskop, dan itu sangat memorable. Walaupun saya dulu belum kenal pemerannya bertabur bintang seperti Val Kilmer, Tommy Lee Jones, Jim Carrey, dan Nicole Kidman, tapi adegan-adegan yang sangat seru tersebut sangat saya ingat hingga sekarang. Namun, setelah saya tonton lagi sekarang, ternyata film itu tidak terlalu keren, biasa saja. Itulah film superhero “alakadarnya”: seru, tapi klise, sehingga mungkin hanya anak kecil yang mampu menikmati sepenuhnya.

Dalam dekade terakhir, kita disuguhi oleh puluhan film-film superhero, mulai dari X-Men, Spiderman, Hulk, Catwoman, Superman, dan lain sebagainya. Dengan teknologi mutakhir yang ada sekarang, visual effect yang ditampilkan film tersebut luar biasa nyata. Tapi, sejauh itulah harga yang bisa diberikan oleh film superhero yang ada: sekedar sensati nyata di mata, tapi tidak hingga masuk ke hati dan pikiran. Masyarakat modern butuh lebih. Kesuksesan trilogi Spiderman di Box Office nyatanya tidak memberikan pemirsanya kepuasan dalam menontonnya. Karena, meskipun efek visual dahsyat, cerita yang klise, basi, dan emosi yang terlalu dibuat-buat menjadikan film itu “alakadarnya”. “Seru sih, tapi gitu aja”.

Kemudian, Christoper Nolan membawa angin yang luar biasa segar saat mengangkat cerita Batman dengan plot yang padat, twisting, menegangkan, dan memecahkan pikiran! Masyarakat film dikejutkan dengan The Dark Knight, yang menampilkan kisah brillian dan sangat segar untuk jenis film superhero. Belum menyebutkan original score yang memacu adrenalin, efek visual yang outstanding, dan “nilai kepahlawanan” yang sangat mendalam. Ini film superhero yang ditunggu. Ini yang ideal, dan bagi saya pribadi, ini yang menjadi standar.

Tahun-tahun setelahnya, beberapa film juga menawarkan lebih. Seperti Kick Ass yang menampilkan kisah superhero dengan cara yang sadis, kasar, tapi sangat membumi dan sederhana. Atau tahun ini, X-Men: The First Class yang “lumayan” memberikan kesegaran dengan cara penceriteraan yang apik dan sinematografi, musik, akting, yang layak diacungi jempol.

Bagaimana dengan The First Avenger: Captain America? Awalnya saya kira, film ini bisa menawarkan lebih, karena Captain America tidak hanya sekadar superhero, tapi juga simbol yang diciptakan Amerika untuk merajai perang, tapi ternyata tidak. Poin lebih ini sudah coba ditampilkan di film ini, namun gagal. Adegan-adegan heroik tidak menjadi heroik, tapi klise. Romansa antara Steve Rogers dengan Agent Carter tidak menenangkan hati, tapi klise. Musik yang coba mengimpresikan kepahlawanan juga tidak memacu kebanggaan, tapi klise. Overall, film ini klise: alakadarnya. Jika tidak dibantu oleh joke-joke yang lucu dan Chris Evans yang mampu memerankan Rogers saat masih “kecil” dan lemah dengan sangat apik, mungkin saya tidak mampu melihat sisi lebih dari film ini selain “alakadarnya”.

Akhir dari film ini, dan sesuai dugaan saya di awal, menjadi benang merah dengan film The Avenger di tahun depan akan dirilis. Film superhero yang super ini kelak akan menampilkan jagoan-jagoan yang filmnya sudah lebih dulu keluar, mulai dari Captain America, Ironman, Thor, The Green Lantern, dan Hulk. Tentu saja, cast-nya sangat super dan bertabur bintang. Sebagai pencinta film superhero, ada keraguan dan harapan di film The Avenger kelak: jika ia mampu menampilkan film yang dahsyat dari segi cerita, membumikan nilai kepahlawanan, menyuguhkan akting, musik, efek visual yang hebat, serta menghilangkan semua keklisean yang ada, maka film ini akan saya ingat sepanjang masa. Jika kembali “alakadarnya”, maka, yah, hanya menjadi “alakadarnya”.

Bukan fatamorgana

Saat percikan itu hilang, apalagi yang kita harapkan?

Saat kenangan tak lagi bernilai, apalagi yang akan kita tuai?

Tak akan kujejali kita dengan romansa,

karena setelah mentari terbenam, hal indah pun akan tenggelam.

Tak ingin kusuguhi segala yang manis

kelak saat rasa tak lagi mengakar, yang manis pun jadi hambar.

Kuberikan padamu, seberkas realita, tentang hidup dan perjuangan;

tentang hal yang indah, tapi juga sadah

tentang hal yang berat, tapi juga erat

tentang hal-hal yang kita doakan

juga hal-hal yang kita kutuk.

Karena denganmu, kuharapkan hidup. Bukan fatamorgana.

A

Ada orang yang mengais sampah, menjual diri, dan merenggut nyawa untuk mempertahankan hal yang sama: hidup. Betapa berharganya nilai sebuah kehidupan hingga banyak orang menukarnya dengan menanggalkan kebaikan yang ada dalam dirinya. Betapa berharganya hidup, hingga hewan yang memiliki volume otak yang terkecil sekalipun, dikaruniai insting alamiah untuk mempertahankan hal itu. Maka, segala puja-puji bagiNya yang telah memberikan berkah berupa kehidupan bagi seorang anak manusia yang kerapkali lupa untuk bersyukur. Alhamdulillah, Rabbil ‘alamin.

Merefleksikan kehidupan laksana memencarkan potongan-potongan citra mutakhir. Ya, citra yang tergambar kokoh dari diri seseorang adalah susunan dari potongan puzzlemasa lalu, yang keping demi keping menyusun satu bagian yang saling melengkapi, atau, setidaknya, saling menuju kelengkapan. Merefleksikan dua dekade kehidupannya, adalah mengungkap titik demi titik perjalanan, semenjak bayi itu lahir dan belum mampu menggunakan apapun dalam dirinya, hingga ketika ia menyadari bahwa setiap organ dalam tubuhnya berguna, maka haruslah ia menjadi seorang yang berguna.

Takdir dan hal-hal yang kebetulan

Apa itu takdir? Ketentuan? Ketetapan Tuhan? Hal-hal yang tetap, absolut, dan tidak berubah? Atau suatu jalan yang fleksibel dan bisa dipilih?

Secara harafiah, asal kata takdir adalah “qadara”, berarti ketentuan. Maka, sejauh apakah ketentuan yang telah ditetapkan dan pada batas mana manusia bisa memilih dan menentukan jalannya?

Bagi saya, Allah itu menentukan jalan hidup manusia dalam sebuah sistem kosmik yang kompleks dan absolut. Sistem ini yang membentuk hidup manusia, tidak mendikte dalam kepastian di setiap langkah-langkahnya, tapi berwujud kausal-konsekuensial, sebab-akibat. Takdirkah kalau saya malam ini lompat dari gedung lantai 15 lalu mati? Ya, tentu saja. Tapi, bukan berarti Allah telah menetapkan bahwa ajal saya adalah malam ini. Takdirnya adalah suatu sistem kosmik yang disebut gaya gravitasi dan hukum aksi sama dengan reaksi. Takdirnya adalah: jika saya lompat dari lantai 15, maka saya akan jatuh ke bawah, dan jika saya jatuh dengan gaya yang besar menabrak semen keras, maka tubuh saya hancur. Saya mati. Itu takdirnya.

Bagaimana jika saya tidak memilih untuk melompat? Bagaimana jika malam ini saya memilih untuk tidur di kasur? Apa saya akan mati dengan tubuh hancur ke tanah? Tentu tidak, karena memang itu takdirnya.

Lalu, semua hal berarti takdir? Tidak. Tapi, semua hal adalah konsekuensi dari suatu “ketetapan”. Analoginya, hidup itu laksana kalkulator, takdirnya adalah sistem kalkulasi yang ada di kalkulator itu. Angka 10 bisa muncul kalau kita menekan 7 + 3, atau 8 + 1, atau 12 - 2. Angka itu konsekuensi dari tindakan kita menekan tombol “7”, “+”, dan “3”. Dan angka yang sama muncul jika kita menekan tombol yang berbeda.

Berarti, adakah hal yang kebetulan? Ada. Karena tombol yang kita tekan, tidak telah ditentukan dengan detail oleh Allah. Dan terkadang, itu ditekan tanpa ada latar belakang yang jelas. Bisa jadi saya belok ke kiri, hanya karena saya malas ke kanan, dan kebetulan saja saya sedang malas ke kanan. Dan bisa jadi kamu belok ke kanan, hanya karena kamu malas ke kiri, dan kebetulan saja kamu sedang malas ke kiri. Di tengah jalan, kita bertemu. Takdir? Ah, jangan terlalu PD. Itu hanya kebetulan.

Tapi, itupun konsekuensi dari takdir.

Seruan Penyelamatan Bangsa

Bahwa semakin jelas ada upaya-upaya sistematis menghancurkan lembaga
penegak hukum KPK beserta seluruh unsurnya.

Bahwa semakin jelas ada pertalian dan kejahatan kolektif yang
dilakukan justru oleh para pemimpin politik yang seharusnya melindungi
negara dan bangsa. Pemimpin politik secara demonstratif menunjukkan
keberpihakan kepada para koruptor yang nyata-nyata telah
meluluhlantahkan sendi-sendi kehidupan rakyat indonesia.

Bahwa fakta-fakta menunjukkan para pemimpin politik menggunakan
kekuasaannya untuk menyalahgunakan APBN untuk kepentingan diri  dan
kelompoknya, bukan untuk mengentaskan kemiskinan, meningkatkan
kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bahwa semakin nyata sejumlah politisi dan pihak melakukan pemufakatan
dan konspirasi jahat untuk menghancurkan KPK yang notabene merupakan
salah satu lembaga penegak hukum yang kredibel dan masih memberikan
harapan pada upaya pemberantasan korupsi.

Bahwa kita semua memahami, korupsilah penyebab kehancuran negara dan
bangsa. Korupsi menjadi penghalang besar penunaian janji kemerdekaan
sebagaimana tercantum dalam naskah Pembukaan UUD 1945.

Oleh karena itu, kami menyerukan kepada seluruh warga negara Republik
Indonesia untuk merapatkan barisan melawan koruptor sebagai musuh kita
sesungguhnya,  guna menjaga keselamatan negara dan bangsa.
Mengimbau seluruh warga bangsa untuk tidak mudah terhasut politik adu
domba para koruptor, yang dengan segala cara berusaha menutupi
kebanaran dan menyebar fitnah.

Kepada para tokoh masyarakat, tokoh mahasiswa, tokoh intelektual,
tokoh perempuan dan tokoh agama, kami imbau untuk menyatukan langkah
membendung serangan balik para koruptor yang telah menyulap diri hadir
seolah-olah menjadi bagian dari kita.

Meminta kepada Presiden dan seluruh pemimpin politik, untuk hadir di
tengah masyarakat mengambil tindakan nyata menyelesaikan permasalahan
rakyat yang kian hari kian dihimpit oleh carut marut ekonomi,
pendidikan, dan kesehatan.

Ketiadaan peran kepemimpinan yang kuat selama dua masa jabatan
kepresidenan, Indonesia berpotensi kehilangan satu dasawarsa dalam
membangun ketertiban dan kepatuhan pada hukum sebagai landasan utama
demokrasi.

Kepada Presiden Republik Indonesia, kami memberikan dukungan
keberanian untuk melakukan langkah-langkah aktif dan nyata,
menggunakan kewenangan tertinggi sebagai Kepala Negara dan Kepala
Pemerintahan, serta sebagai pemegang mandat Rakyat Indonesia, untuk
melindungi negara dan warga bangsa:

  • Dari serangan balik para koruptor,
  • Dari kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kebutuhan dasar rakyat banyak,
  • Dari pemiskinan terstruktur karena penguasaan sumberdaya ekonomi oleh segelintir kelompok,
  • Dari ketidakpastian hukum dan penegakan hukum yang tidak adil,
  • Dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil atas dasar kepentingan politik jangka pendek.

Jakarta, enam puluh enam tahun setelah Indonesia merdeka.
Tertanda, rakyat Indonesia

Anies Baswedan, Anita Wahid, Bambang Widodo Umar, Beni Susetyo, Betti
S. Alisjahbana, Burhan Muhtadi, Chatarina Widyasrini, Clara Yuwono,
Danang Widoyoko, Eep Syaefullah Fattah, Eddy Swandi Hamid, Enriartono
Sutarto, erry R. Hardjapamengkas, Faisal Basri, Febridiansyah, Hamid
Chalid, Ikrar Nusa Bakthi, Imam Prasodjo, Karlina Supeli, Komaruddin
Hidayat, Ligwina Poerw-Hananto, Maggy Horkoruw, M Ichsan Loulembah,
Mas Achmad Santosa, Minica Tanuhandaru, Mustaghfirien, Natalia
Soebagjo, Ratih Sanggarwati, Rhenald Kasali, Saldi Isra, Sri Palupi,
Teten Masduki, Tika Makarim, Todung Mulya Lubis, Usman Hamid, Yenni
Wahid, Yunarto Wijaya, Zainal Arifin Muchtar, Zumrotin K.Susilo

Definisi yang misperseptif

Kadangkala kita salah mendefinisikan definisi. Padahal, untuk mendefinisikan suatu benda, kondisi, atau peristiwa, kita memerlukan pemahaman yang baik tentang apakah definisi yang sebenarnya dari “definisi” tersebut. Ketidakinsyafan kita membuat definisi menjadi berputar, salah, dan bahkan saling meniadakan. Definisi yang misperseptif.

Kelemahan kita dalam mendalami kekayaan semantik dalam bahasa, atau kelemahan bahasa yang kurang memiliki kedalaman semantik, membuat kita kesulitan untuk membahasakan suatu frasa. Karena kesulitan, akhirnya kita mendefinisikan sesuatu dengan cara yang paling mudah: biverbal dan analogis.

Apa itu tampan? Tampan adalah ganteng. Definisi biverbal. Apa itu keluarga? Keluarga itu suatu ikatan, contohnya kalau di keluarga genk motor, mereka saling dekat dan toleran, tapi memusuhi pihak luar. Definisi analogis.

Kedua cara definisi ini sama-sama membingungkan. Pada definisi biverbal, kita akan berputar-putar karena sinonim yang dijadikan definisi belum tentu bisa kita definisikan. Jika tampan adalah ganteng, lalu apa itu ganteng? Pada definisi analogis, implikasinya jauh lebih menyesatkan karena analogi yang kita gunakan belum tentu tepat dan hakiki untuk secara definitif menjelaskan kata yang kita cari.

Seharusnya kita bisa mendefinisikan sesuatu secara an sich: hakiki, pada dirinya sendiri, dengan menjernihkan persepsi kita dalam memahami apa itu definisi.

Ramadhan

Ramadhan selalu memiliki arti spesial untuk saya. Tidak sekadar bulan puasa, sahur, taraweh, dan es timun suri. Lebih dari itu. Di awal Ramadhan selalu ada sensasi getar yang mengalir, like love at first sight. Ada listrik yang menyetrum sekujur tubuh.

Sebagaimanapun rusaknya hidup saya dalam tahun itu, Ramadhan selalu menjadi momentum perubahan. Semangat transformatif dalam konteks yang progresif selalu ada. Mungkin Autobots datang ke bumi saat bulan Ramadhan. Atau Kotaro Minami mulai berubah jadi Kamen Rider Black saat Ramadhan. Sehingga ada semangat yang historis akan spirit progresifitas di bulan ini.

Merefleksikan memoar Ramadhan dalam satu dekade terakhir, memunculkan hasrat untuk memuncakkan Ramadhan tahun ini. Bukan hanya sekadar ibadah mahdhah, tapi lebih jauh lagi, untuk memperkokoh konsep diri secara kontemplatif. Semoga niat yang baik, berujung pencapaian yang baik.

Mohon maaf atas segala kesalahan.

Hidup. Bukan Misteri.

Hidup adalah misteri. Wujudnya bagai relikui kelam yang tertutup kabut tebal. Jarak pandang kita terbatas di tempat kita berpijak. Kadang, jalan kembali pun samar. Jalan ke depan, lebih temaram. Sebagian orang takut melaju, sebagian orang bingung, sebagian orang khawatir, sebagian lagi penasaran, tentang apa yang ada di depan.

Bagi saya, masa kini lebih menakutkan. Karena keegoisan, kebodohan, kesombongan, kepicikan, hipokrisme, pragmatisme kita yang membuat realitas menjadi kabur. Kadang kita menipu diri sendiri, “ah, saya berlari kencang”, “ah, saya di jalan yang tepat”, “ah, sekarang saya orang yang hebat”. Kalimat manis bak gincu yang mewarnai bibir. Menutupi realitas yang kering, hitam, menyedihkan.

Realitas semu dibangun dalam struktur yang indah tapi lemah, hanya untuk sekedar menyenangkan diri, atau untuk menenangkan pikiran. Dan kastil indah ini membuat kita nyaman tinggal; makan, hidup, tidur, di dalamnya. Padahal kastil itu dibangun oleh kepalsuan perspektif kita yang tidak cukup bijak dan berani untuk menjalani petualangan yang penuh duri. Hidup macam itu dibangun dari sensasi dan persepsi semu. Itu bukan hidup.

Keluarlah. Pergi. Hancurkan struktur itu hingga ke fondasi. Bangunlah kekuatan atas dasar kebenaran dan kenyataan. Maka itu adalah hidup. Bukan misteri.

Mengertilah, Tugas Akhirku, jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh.

Iwan Fals, dengan sedikit adaptasi.

Time after Time

Seorang dara membeku. Di tengah jalan; di selipan bayang-bayang pepohonan mahoni; di antara semburat fajar. Di hadapannya terlukis siluet fana, hitam namun bercahaya. Satu frasa berujar.

Sometimes you picture me: I’m walking too far ahead, you’re calling to me, i can’t hear what you’ve said.

Suaranya sayup berirama, berlantun bak dawai tak berima. Pitanya bergetar, gelombang tak keluar. Frustrasi tak berarti. Histeri tiada lagi. Di tengah kejengahan dan titik tangis, nuraninya bersenandung.

Go slow, i fall behind; the secondhand unwinds.

Siluet menghilang dalam kabut, kabut menghilang dalam ruang; ruang berputar, terbalik, retroposisi, gelap, lalu kembali terang. Segala hampa terdislokasi. Kenyamanan menelusup, hangat. Yang beku mencair. Yang diam, berteriak.

If you’re lost, you can look, and you will find me.

Masa demi masa dinanti, waktu demi waktu tertunggu. Bukan pangeran di negeri dongeng, atau pahlawan di antah-berantah. Hanya sesosok lembut yang bertanggung jawab, dan bermartabat.

If you fall i will catch you, i will be waiting. Time after time.

Karena dahulu Tuhan menciptakan pemersatu, bernama waktu.